Pengalaman Tes Dosen di Universitas Dayanu Ikhsanuddin

Saya akan berbagi pengalaman tentang tes penerimaan dosen tetap di Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) di Kota Baubau. Jurusan yang saya lamar yaitu Teknik Pertambangan. Perjuangan untuk mengikuti tes ini sebenarnya sangat besar karena posisi saya sedang kerja di Jakarta sedangkan tesnya di Baubau, Sulawesi Tenggara.

Tes penerimaan dosen Unidayan hari Kamis, 18 Januari 2018. Jadi saya berangkat dari Jakarta pakai pesawat Garuda jam 1.20 WIB (dini hari), trus transit di Makassar dan tiba di Baubau sekitar setengah 8 pagi.

Tiba di Baubau saya langsung ke rumah orang tua yang lokasinya di BTN Topa lama (samping kompleks Palm Beach). Setelah itu saya ke kampus untuk tes. Saya di jadwalkan tes jam 9. Tapi kenyataannya tes sekitar jam setengah 10.

Ruang Rapat Rektorat yang bersampingan dengan ruang Rektor


Tes dilakukan di ruang rapat rektorat. Jadi bayangkan ruangan untuk rapat tapi di pakai untuk wawancara. Oh ya wawancaranya di lakukan seperti orang yang hendak disidang. Di depan saya ada tiga orang diantaranya wakil rektor.

Tes pertama yaitu wawancara. Pada tahap ini banyak sekali yang ditanyakan dan waktunya lumayan lama, mungkin sekitar satu jam. Banyak sekali yang ditanyakan ke saya. Tapi intinya adalah para pewawancara ingin tahu apa yang membuat saya ingin pindah ke Unidayan. Karena saya sudah lama kerja di Jakarta dan berada pada zona nyaman.

Dari wawancara itu saya menekankan kepada para pewawancara bahwa saya ingin pulang kampung. Saya ingin berkontribusi pada daerah sesuai dengan kapasitas ilmu saya. Saya sadar bahwa ilmu kebumian seperti geologi, tambang, geofisika, minyak adalah ilmu-ilmu yang belum populer di kepulauan Buton.

Jadi saya melihat ini adalah kesempatan besar untuk saya pulang kampung. Selain itu saya juga ingin melakukan penelitian di daerah kepulauan Buton karena daerah ini sangat kaya dengan potensi tambang. Setelah banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para pewawancara ini, selanjutnya saya masuk ke tes bagian ke dua.

Tes kedua yaitu micro teaching. Saya berdiri di ruang itu menghadap para pewawancara dan melakukan microteaching seolah-olah sedang mengajar di dalam kelas. Setelah melakukan microteaching, para pewawancara memberi penjelasan bahwa mengajar berbeda dengan presentasi. Saya pun tersenyum dan mengatakan saya akan belajar tentang cara mengajar sebagai dosen.

Setelah selesai wawancara dan tes di dalam ruangan itu saya pun keluar. Saya berpikir sudah selesai, ternyata belum. Saya kemudian di arahkan untuk masuk ke ruangan Pak Rektor Unidayan. Di dalam ruangan Rektor pun dilanjutkan lagi dengan wawancara.

Wawancara dengan Pak Rektor tidak terlalu serius seperti wawancara dengan tiga orang sebelumnya. Pak Rektor menanyakan seberapa serius saya dengan pekerjaan ini mengingat saya sudah lama di Jakarta. Jawaban saya kurang lebih sama seperti yang saya tulis di atas. Bahwa saya ingin pulang kampung dan mengaplikasikan ilmu yang sesuai dengan jurusan saya.

Pak Rektor menanyakan bagaimana dengan pekerjaan di Jakarta. Saya bilang bahwa jika saya diberi kesempatan untuk menjadi dosen tetap Unidayan maka saya akan keluar dari pekerjaan saya yang di Jakarta. Yang penting saya dipastikan dulu diterima di Unidayan baru saya akan keluar dari kantor di Jakarta.

Alhamdulillah, wawancara berjalan dengan lancar. Setelah itu saya langsung pulang ke rumah orang tua dan sorenya saya langsung terbang pulang ke Jakarta lagi. Saya harus pulang ke Jakarta hari itu juga karena di sana ada Istri dan anak2 yang menunggu.

Comments

  1. Luar biasa pengorbanan ny bapak semoga tetap memberikan yg terbaik buat unidayan dan Teknik Pertambangan pak��

    ReplyDelete
  2. Jadi keterima pak? Bagaimana anda tahu ada lowongan dosen di unidayan sementara sistem informasi di sana masih terbilang minim ya untuk website kampu dll

    ReplyDelete

Post a Comment